RSS

Proses Pembuatan Film / Sinema

26 Apr

Kebanyakan film memilki proses umum yang sama. Tulisan  ini menjelaskan proses pemfilman secara umum dan membahas beberapa aspek teknis pemfilman lainnya.

Pembuatan stage mengawali proses produksi sebuah film. Dalam stage ini, sang penulis naskah menulis skenario dan produser mengkontrak sutradara serta pemain utama, menyiapkan pendanaan dan jadwal syuting, serta mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk membayar ongkos produksi.Tulisan sebelumnya: >>Mereka yang bekerja di dunia film / sinema 4<<

Tahap selanjutnya adalah pra-produksi, termasuk persiapan kerja yang tersisa sebelum produksi dimulai. Selama masa pra-produksi, produser akan merekomendasi versi final skenario, para pemain dan kru dikontrak, dan lokasi syuting diselesaikan. Sutradara, asisten sutradara, manajer produksi, dan produser merancang urutan syuting tiap-tiap adegan. Jika memungkinkan para aktor melakukan gladi resik. Produser, sutradara, dan desainer bekerja bersama mengikhtisarkan tampilan film – bagaimana adegan dilakukan, memasang konstruksi dan dekorasi, kostum-kostum, makeup dan tata rambut, dan tata lampu (pencahayaan).

Ketika pra-produksi selesai, proses produksi bisa dimulai. Sebuah film, diambil gambar secara adegan per adegan, dan adegan diambil gambar secara shot demi shot. Adegan-adegan dan shot-shot ini yang di filmkan ini tidak selalu muncul di film. Hal ini dikarenakan film tergantung berbagai faktor misalnya kondisi cuaca, kesediaan aktor, dan jadwal setting konstruksi. Adegan yang termasuk luas, setting yang rumit seringkali difilmkan pada akhir jadwal syuting, karena bagian ini mengambil waktu lamam untuk menyelesaikannya. Setting bisa diperinci. Dalam film Titanic, misalnya, para pembuat film membangun ruang interior yang sangat besar seperti tangga utama dan salon restoran lebih dari 19 juta liter tangki air. Setting ini didukung oleh sistem hidrolik yng menurunkan air secara simulasi untuk menenggelamkan kapal.

Persiapan untuk syuting film memiliki lima proses kerja:

  1. Departmen seni dan master properti mempersiapkan setting perabotan dan sebagainya yang akan digunakan para aktor;
  2. Para aktor menghafalkan dialog dan gerakan badan sesuai skenario:
  3. Pengarah fotografer memilih dan mengatur lampu:
  4. Operator kamera menyesuaikan sudut dan gerakan lensa yang akan digunakan dalam syuting:
  5. dan kru suara mengatur suara danpenempatan mikropon.

Sementara itu, sang sutradara mengamati dan mengkoordinasi semua aktivitas tersebut.

Setiap film yang telah di-syut (diambil gambarnya) dinamakan take (pengambilan). Untuk syuting yang variatif seperti adegan pertempuran, sutradara biasanya menggunakan banyak kamera untuk mengurangi banyaknya take tersebut. Meskipun menggunakan banyak kamera, sutradara bisa saja membutuhkan banyak take untuk hasil yang maksimal.

Setelah masing masing take selesai, sutradara akan mendiskusikannya dengan operator kamera dan production sound mixer (orang yang bertugas menkombinasikan suara dalam proses produksi). Jika sutradara berkenan dengan hasilnya dan jika kamera dan suara berjalan baik, sutradara akan menyuruh agar hasil take tersebut diprint. Jika hsil take tidak sesuai keinginannya, maka tidak akan diprint.

Dalam produksi ber budget (dana) tinggi yang memiliki adegan yang bervariatif, maka pantasnya film akan dibuat dalam satu master shot yang panjang, yang akan memasukan seluruh adegan utama. Cover shot adalah shot yang jernih yang diedit ke dalam master shot, membubuhkan fek dramatic yang semestinya pada adegan dan mendetailkan dari setiap gerak adegan ke gerak adegan. Cover shots meliputi close-up (pengambilan gambar jarak dekat), medium shotlong shottracking shot (shot di mana kamera bergerak ketika proses pemfilman). Syuting shot-shot seperti itu disebut shooting cooverage.

Masing-masing pengambilan gambar, meskipun sebentar, tetap membutuhkan pemasangan baru kamera dan penempatan baru lampu, mikropon dan para aktor. Adegan dari satu shot ke shot lainnya harus selaras ketika diedit ke dalam bentuk film. Misalnya, ketika heroin dalam gelas telah diatur berada di tangan kiri dalam master shot, maka dalam shot close-up aktor tidakl boleh mengalihkannya ke tangan kanan.

Di akhir waktu syuting, hasil shot yang dikehendaki sutradara akan diprint. Di hari selanjutnya, sutradara, produser, pengarah foto dan editor akan mencermati gambar-gambar tersebut berhari-hari. Selama proses pekerjaan ini, sutradara dan editor mulai menyusun shot-shot menjadi sebuah adegan, dan menyusun adegan-adegan menjadi sebuah rangkaian. Versi awal rangkaian tersebut, atau disebut cut awal, sering kali berisi take-take alternatif untuk shot-shot yang sudah siap jadi.

Ketika sutradara dan editor membuat keputusan final selama proses editing, mereka menyisihkan take-take yang tidak sesuai, sehingga struktur gambar akhirnya akan muncul dalam bentuk sebuah rough cut (cut kasar). Kemudian, ketika adegan dipoles dan diperhalus transisi (perpindahan antar adegan) nya, secara perlahan rough cut tersebut menjadi first cut (cut pertama).

Selama proses kerja postproduksi, sutradara dan editor biasanya akan membicarakan beberapa problem dan mencari solusinya. Misalnya, jika salah satu shot yang diambil secara close-up bergeser jauh beberapa saat dari fokus, mereka akan menutupinya dengan cara memotongnya sedikit jika tidak memiliki take close-up lainnya yang baik. Ketika melakukan editing pada cut awal, sutradara akan mempertimbangkan rekomendasi produser, akan tetapi tetap berusaha menyesuaikan keinginannya terhadap keseluruhan gambar.

Produser biasanya ikut campur tangan, khususnya jika sutradara dan editor menetapkan akan melakukan syuting ulang; dikarenakan hal ini akan film menelan biaya lebih dari anggaran. Jika seluruh adegan yang di-shot dan cut awal telah terselesaikan, produser biasanya akan menyetujuinya atau produser akan ikut terjun bersama editor dan atau sutradara untuk membuat perapihan dan memperbagus film.

Hasil produksi akhir adalah disebut cut final. Film kemudian siap untuk masuk ke proses sound editing, proses final arrasement music dan mixing.

sumber : http://masbadar.com/proses-pembuatan-film-sinema/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 April 2012 in Bookmark, Multimedia

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: